Skip to main content

Apa Kabar

"Masihkah ingat kepada siapa hal ini ingin kamu tanyakan?"

Entah kepada teman lamamu, kepada orang tuamu, mungkin kepada mereka yang sedang berjuang sendirian di rumah sakit atau mereka yang tidak bisa pulang berkumpul bersama keluarganya. Kepada rekan kerjamu yang terkena PHK atau tetangga rumahmu yang sudah jarang kamu temui. Kerabat jauhmu atau mereka yang sedang sibuk bekerja sehingga kamu pun segan untuk bertanya. Kepada siapapun itu yang pernah kamu kenal dan mereka mengenalmu.

Perihal pandangan jadi renungan, ini tentang sebuah kata sederhana yang terdengar biasa saja tapi bisa berdampak besar bagi sebagian orang. 

Akhirnya terciptalah sebuah teori. 'Kadang kita mau tapi kita ragu. Kadang kita rindu tapi kita malu. Juga kadang kita gak tahu dan gak mau tahu'. Jadi diam dan mengurungkan niat adalah pilihan paling tepat. 

Padahal bilang, Apa kabar...

Ketika diucapkan dengan perasaan tulus. Betapa berartinya kata-kata itu. Jadi, sudahkah ingat kepada siapa hal ini ingin kamu tanyakan?

Mudah-mudahan kita senang membuat harinya terang. Mengukir sebuah senyuman dengan cara yang riang. Berawal dari hal kecil yang tadinya sukar dilakukan sekarang jadi mudah tersampaikan. Semoga ~

© ardidapb

Comments

Popular posts from this blog

Teman Pulang

Saat suasana terasa sepi kadang saya berpikir  "Apa sih yang saya cari?"  "Hidup seperti apa sih yang bisa saya maknai?"  Semua punya waktu.  Begitu juga tentang tinggal dan meninggalkan. Keduanya itu terasa seperti pilihan...  Tetapi nyatanya kita tak punya kuasa untuk memilih. Sebaik apapun rencananya. Kita hanya pemeran tidak benar-benar bisa mendampingi saat sudah waktunya "Pulang" . Diri ini punya Tuhan. Jiwa dan raga yang rapuh hanyalah titipan. Apa sih, yg mau diagungkan. Apa sih, yang benar-benar kamu cari saat hidupmu bahkan sudah baik-baik saja? Saya rasa bukan kebanggaan yang jadi titik tenang, tapi bermanfaat untuk orang jauh lebih membahagiakan.  Karena, yang tulus... Biasanya jadi teman pulang. *Sudah ah, ini hanya catatan anak kecil yang hidupnya serba kebingungan.  © ardidapb

Sepucuk Cerita

 Ada yang tersesat di dalam hutan Lalu singgah di gubuk tua di malam hari Tempatnya kecil namun berapi, sehingga hangat juga terang Mengintip ia lewat bilik-bilik dinding Diluar hujan dan anginnya kencang Sendirian merungkuk, memeluk lutut Sembari berdoa memohon reda. "Tuhan jangan kau buat apinya mati. Aku takut gelap, mataku juga rabun" Pintanya gelisah. Belum sempat ia sampaikan doa yang lain Air turun dari atap yang bocor "Kenapa?"  Tanyanya takut sambil menangis Tungku pun padam dan gelap gulita Keluar  ia mencari cahaya bulan Tiba-tiba petir menghantam gubuknya Hancurlah sudah sampai seisi-isinya Hanya diam mematung menyaksikan semua "Kau tahu aku diminta keluar karena petir datang"  Dan "Kau tahu di luar pun gelap aku kehujanan"  Ketakutan membuat rasa syukurnya hilang "Aku sendirian" "Aku kebingungan" "Kau tahu apa yang harus ku lakukan?" Tanyanya pada seekor katak yang diam Katak itu lompat mende...

Buku Rasa Cokelat

Saat aku merasa tidak ingin mengatakan apa yang sedang kurasakan kepada manusia lain sebagai perantaranya. Saat itu, aku memilih menjadi silentium saja. Rasa-rasanya buku adalah pilihan tepat untuk melarikan diri tanpa harus banyak berucap. Tapi terkadang benda mati seperti buku pun bisa jauh memahamiku.  Buku bisa jadi teman sekaligus penasihat. Mengerti apa yang ku inginkan, tahu apa yang ku butuhkan. Tak perlu repot-repot merepetisi cerita yang ku punya. Hanya dengan menemukan. Membacanya pelan-pelan jika ada yang tidak kumengerti biasanya kucari sendiri. Seolah-olah ia mampu marasuki pikiranku menyuruhku agar tetap waras sekalipun dalam diam.  Belakangan ini aku mencoba menjauhkan diri dari social media. Cara ini terbukti ampuh membuat ku fokus merampungkan bacaan. Buku terakhir yang kubaca berjudul Filosofi Teras milik Henry Manampiring, yang dari awal babnya saja sudah membuat ku hanyut dalam ilustrasi cerita. Seperti tenggelam dalam aksara. Padahal maksudn...