Skip to main content

Sepucuk Cerita


 Ada yang tersesat di dalam hutan

Lalu singgah di gubuk tua di malam hari

Tempatnya kecil namun berapi, sehingga hangat juga terang

Mengintip ia lewat bilik-bilik dinding

Diluar hujan dan anginnya kencang

Sendirian merungkuk, memeluk lutut

Sembari berdoa memohon reda.

"Tuhan jangan kau buat apinya mati. Aku takut gelap, mataku juga rabun"

Pintanya gelisah.

Belum sempat ia sampaikan doa yang lain

Air turun dari atap yang bocor

"Kenapa?" 

Tanyanya takut sambil menangis

Tungku pun padam dan gelap gulita

Keluar ia mencari cahaya bulan

Tiba-tiba petir menghantam gubuknya

Hancurlah sudah sampai seisi-isinya

Hanya diam mematung menyaksikan semua

"Kau tahu aku diminta keluar karena petir datang" 

Dan

"Kau tahu di luar pun gelap aku kehujanan" 

Ketakutan membuat rasa syukurnya hilang

"Aku sendirian"

"Aku kebingungan"

"Kau tahu apa yang harus ku lakukan?"

Tanyanya pada seekor katak yang diam

Katak itu lompat mendengar suara guntur kembali muncul.

Tangisnya semakin pecah

Menjadi doa dan harapan yang paling pasrah

Sampai akhirnya hujan pun reda

Guntur sudah tidak ada

Langit terang karena pagi datang

Diusapnya air mata berlinang

"Jangan jadi nyata..."

Ini bukan cerita sedih, ini hanya mimpi buruk

Dicarinya seseorang, yang menjadikannya tenang dan tidak ketakutan.

"Bu aku rindu"

Katanya lirih sambil bersimpuh.

© ardidapb

Comments

Popular posts from this blog

Teman Pulang

Saat suasana terasa sepi kadang saya berpikir  "Apa sih yang saya cari?"  "Hidup seperti apa sih yang bisa saya maknai?"  Semua punya waktu.  Begitu juga tentang tinggal dan meninggalkan. Keduanya itu terasa seperti pilihan...  Tetapi nyatanya kita tak punya kuasa untuk memilih. Sebaik apapun rencananya. Kita hanya pemeran tidak benar-benar bisa mendampingi saat sudah waktunya "Pulang" . Diri ini punya Tuhan. Jiwa dan raga yang rapuh hanyalah titipan. Apa sih, yg mau diagungkan. Apa sih, yang benar-benar kamu cari saat hidupmu bahkan sudah baik-baik saja? Saya rasa bukan kebanggaan yang jadi titik tenang, tapi bermanfaat untuk orang jauh lebih membahagiakan.  Karena, yang tulus... Biasanya jadi teman pulang. *Sudah ah, ini hanya catatan anak kecil yang hidupnya serba kebingungan.  © ardidapb

Kuala Lumpur

Hi Ran, gimana kabarnya? Udah hampir setahun kita enggak ketemuan. Batam - Cilegon jauh ya. Andai aku punya pintu Doraemon. Mungkin tiap hari aku main kesana, tapi sayangnya itu musrik dan aku gak percaya. Jadi ingat kata-katamu ran. "Waktu berlalu begitu cepat dan kita gak pernah tau apa yang bakal terjadi di masa depan" Tahun 2020 terlalu ekstrem untuk di narasikan. Jadi, aku bukan mau cerita tentang si monster yang udah bikin banyak orang merasa kehilangan. Tapi mau cerita tentang jalan-jalan kita ke Malaysia tahun lalu. Mau ingat yang seru-serunya aja. Biar lunas juga hutang  posting ceritanya haha . Bulan Juni 2019, sebelum aku pulang ke Cilegon di akhir tahun. Kita berencana traveling ke Kuala Lumpur. Senang banget, karena itu pertama kalinya kita pergi ke Malaysia. Ingat gak ran? Kita ngadain meeting hampir tiap minggu saking excited nya kita juga punya catatannya masing-masing. Mulai dari penginapan, transportasi, tempat wisata, estimasi biaya sa...