Menginjak umur yang tidak lagi
di anggap remaja alias sudah berkepala dua. Kamu, seharusnya sudah memiliki
beberapa peningkatan dalam hidup, contohnya;
“Peningkatan status”
“Kebahagiaan”
“Jabatan”
“Penghasilan.”
Semuanya oke, keren,
“Amazing lah…”
Tapi, kita tidak akan membahas
seberat itu. Kali ini, kita kupas dari segi yang kecil dan sederhana saja.
“Peningkatan pola-pikir.”
Pada umumnya, umur saja tidak
cukup untuk menilai kedewasaan seseorang. Kamu, perlu melihat dari sudut yang
paling dasar yaitu cara berpikir. Untuk kamu yang cukup sibuk. Sibuk kuliah, sibuk
berkarier atau sibuk mencari jodoh. Perlahan, tanpa kamu sadari kamu belajar
menikmati perubahan pola pikir diri sendiri. Semua ada tahapan dan fase-nya.
Hanya saja, kapan dan seperti apa. Cuma kamu yang bisa memastikan.
Tentang
Kepedulian
Penulis menamakan hal ini dengan sebutan rantai hati. Semakin kita peduli terhadap satu hal, semakin
kita peduli untuk banyak hal dan membuka hati-hati yang tertutup untuk saling
membantu. Misalnya misi kemanusiaan, peduli terhadap kerabat,
peduli terhadap teman, peduli terhadap lingkungan, dsb. Tidak ada manusia yang kejam
di dunia ini, yang ada hanya manusia yang enggan mengerti peduli.
Kamu yang mulai beranjak dewasa, paham akan sebuah keprihatinan disekitarmu. Bisa jadi, rasa peduli tersebut muncul karena kamu pernah mengalaminya. Peduli itu tidak hanya berupa materi ada banyak cara untuk mengulurkan bantuan hanya tinggal kamu yang memutuskan.
Kamu yang mulai beranjak dewasa, paham akan sebuah keprihatinan disekitarmu. Bisa jadi, rasa peduli tersebut muncul karena kamu pernah mengalaminya. Peduli itu tidak hanya berupa materi ada banyak cara untuk mengulurkan bantuan hanya tinggal kamu yang memutuskan.
“Membantu dengan
cara seperti apa dan bagaimana”. Sehingga, pola pikirmu menggerakan otakmu dan juga hatimu.
Tentang
Kemandirian
Bertambahnya usia banyak perubahan
yang kamu rasakan. “Tapi kapan mandirinya?”
Tidak ada cara lain kamu wajib mengambil cara tersebut.
“Mandiri...” Karena tidak
selamanya kamu bergantung pada orang lain. Apalagi, untuk kamu yang jauh dari
orang tua. Semua dihadapi, dilalui dengan pola pikir yang serba mikir. Mandiri
dalam segala hal membuat kamu terlatih setiap harinya. Meski kenyataannya
tidaklah mudah, tapi kamu terus melaju dengan pola-pikirmu. Sehingga perjalananmu
begitu mengesankan, kamu patut mengapresiasi dirimu sendiri. Sebenarnya tidak ada
kriteria yang dapat mengukur kemandirian seseorang secara tepat. Oleh karenanya
untuk benar-benar mengerti kamu perlu melakukannya sendiri.
Tanyakan lagi, “Apa aku sudah mampu mengurusi hidupku sendiri?”
Tentang Keberanian
Sebuah energi positif yang ada di dalam diri manusia, terdapat beberapa komponen
pendukungnya. Keberanian berawal dari sebuah alasan atau tanpa alasan. Ada
banyak orang yang bilang berani adalah cara terbaik dalam menyelesaikan masalah.
Kamu, yang dewasa ini sudah dilanda oleh problema kehidupan pasti banyak
mengalami himpitan dan keberanian adalah cara satu-satunya untuk merubah
keadaan. Kita bicara mengenai keputusan.
“Jika niatmu baik,
keberanianmu akan berarti baik, segera lakukan” begitu pula sebaliknya.
“Jika niatmu
buruk, keberanianmu akan berarti buruk. Segera hidari”. Meski kadang
ketidakberuntungan menghalangi keputusan baik. Jangan khawatir, tidak ada yang
sia-sia, kamu memiliki Tuhan. Percayalah pada doa dan harapan yang baik.
Hadiah-Nya lebih besar dari sekedar ketidakberuntungan, karena yang kemarin
hanya belum rejeki saja.
Tentang
Kesopanan
“Sekolah
tinggi-tinggi tapi bicara dengan orang yang lebih tua kok seperti itu ya?”
Tidak maukan di bilang begitu, maka lakukanlah dengan bijak dan pada tempatnya. Kita diam saja dapat omongan
apalagi sampai bicara tidak sopan.
Tentang Ketaatan
Di dunia ini tidak ada manusia
yang sempurna, penulis pun hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan khilaf. Ada beberapa peningkatan-peningkatan kecil yang saya alami. Meski terkadang kita
perlu di dekatkan pada sebuah cobaan barulah kita taat. Atau taat tapi masih pada porsi yang minim. Meski begitu, kamu perlu bersyukur karena masih diberi
umur untuk memperbaiki diri. Itu artinya, kita di pinjamkan waktu dan diberikan peluang untuk belajar lebih mentaatkan diri kepada Sang khalik.
"Lihat umurmu sekarang, masihkah sering melalaikan perintah-Nya ?" Renungan.
***
Saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT, kedua orang tua yang sudah mengizinkan saya merantau, kerabat/saudara yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri selama saya di Batam (teh Devi dan mas Iwan), Cemara (Kak Ayu, kak Evi), Sahabat Kampret (Ranti, Isti, Cindy), teman-teman kampus, bapak/ibu Dosen, rekan-rekan kerja, tetangga rumah, Bu Dewi (ibu kost terbaik), Budek warung nasi, abang/mbak tukang sate, Alfamart samping kostan, para ibu angkat yang udah kayak mama sendiri, himpunan kegiatan sosial serta yang gak bisa saya sebutin entah yang saya kenal atau tidak terima-kasih banyak. Selama saya di Batam begitu banyak pengalaman
berharga yang saya dapat.
© ardidapb





Comments
Post a Comment