Skip to main content

Pola Pikir

Menginjak umur yang tidak lagi di anggap remaja alias sudah berkepala dua. Kamu, seharusnya sudah memiliki beberapa peningkatan dalam hidup, contohnya;

“Peningkatan status”

“Kebahagiaan”

“Jabatan”

“Penghasilan.”

Semuanya oke, keren, “Amazing lah…”
Tapi, kita tidak akan membahas seberat itu. Kali ini, kita kupas dari segi yang kecil dan sederhana saja.

“Peningkatan pola-pikir.”
Pada umumnya, umur saja tidak cukup untuk menilai kedewasaan seseorang. Kamu, perlu melihat dari sudut yang paling dasar yaitu cara berpikir. Untuk kamu yang cukup sibuk. Sibuk kuliah, sibuk berkarier atau sibuk mencari jodoh. Perlahan, tanpa kamu sadari kamu belajar menikmati perubahan pola pikir diri sendiri. Semua ada tahapan dan fase-nya. Hanya saja, kapan dan seperti apa. Cuma kamu yang bisa  memastikan.


 Tentang Kepedulian 
 Penulis  menamakan hal ini dengan sebutan rantai hati. Semakin kita peduli terhadap satu hal, semakin kita peduli untuk banyak hal dan membuka hati-hati yang tertutup untuk saling membantu. Misalnya misi kemanusiaan, peduli terhadap kerabat, peduli terhadap teman, peduli terhadap lingkungan, dsb. Tidak ada manusia yang kejam di dunia ini, yang ada hanya manusia yang enggan mengerti peduli.

Kamu yang mulai beranjak dewasa, paham akan sebuah keprihatinan disekitarmu. Bisa jadi, rasa peduli tersebut muncul karena kamu pernah mengalaminya. Peduli itu tidak hanya berupa materi ada banyak cara untuk mengulurkan bantuan hanya tinggal kamu yang memutuskan.

“Membantu dengan cara seperti apa dan bagaimana”. Sehingga, pola pikirmu menggerakan otakmu dan juga hatimu.


Tentang Kemandirian
Bertambahnya usia banyak perubahan yang kamu rasakan. “Tapi kapan mandirinya?” Tidak ada cara lain kamu wajib mengambil cara tersebut. 

“Mandiri...” Karena tidak selamanya kamu bergantung pada orang lain. Apalagi, untuk kamu yang jauh dari orang tua. Semua dihadapi, dilalui dengan pola pikir yang serba mikir. Mandiri dalam segala hal membuat kamu terlatih setiap harinya. Meski kenyataannya tidaklah mudah, tapi kamu terus melaju dengan pola-pikirmu. Sehingga perjalananmu begitu mengesankan, kamu patut mengapresiasi dirimu sendiri. Sebenarnya tidak ada kriteria yang dapat mengukur kemandirian seseorang secara tepat. Oleh karenanya untuk benar-benar mengerti kamu perlu melakukannya sendiri. 

Tanyakan lagi, “Apa aku sudah mampu mengurusi hidupku sendiri?”


Tentang Keberanian
Sebuah energi positif yang ada di dalam diri manusia, terdapat beberapa komponen pendukungnya. Keberanian berawal dari sebuah alasan atau tanpa alasan. Ada banyak orang yang bilang berani adalah cara terbaik dalam menyelesaikan masalah. Kamu, yang dewasa ini sudah dilanda oleh problema kehidupan pasti banyak mengalami himpitan dan keberanian adalah cara satu-satunya untuk merubah keadaan. Kita bicara mengenai keputusan.

“Jika niatmu baik, keberanianmu akan berarti baik, segera lakukan” begitu pula sebaliknya.

“Jika niatmu buruk, keberanianmu akan berarti buruk. Segera hidari”. Meski kadang ketidakberuntungan menghalangi keputusan baik. Jangan khawatir, tidak ada yang sia-sia, kamu memiliki Tuhan. Percayalah pada doa dan harapan yang baik. Hadiah-Nya lebih besar dari sekedar ketidakberuntungan, karena yang kemarin hanya belum rejeki saja.


Tentang Kesopanan
“Tingkah-lakumu mencerminkan siapa kamu” Dengan umurmu yang sudah tidak lagi remaja, berkacalah. Sopan santunmu tidak bisa dibedakan berdasarkan kedudukan atau jabatan. Kesopanan tetap kesopanan. Cara berbicara, bertingkah pada sekelilingmu pada siapapun itu. Seseorang tentu memiliki beragam bahasa dan budayanya masing-masing. Kamu hanya perlu bedakan mendengar dan menjawab. Jika kamu merasa jengkel, bukan berarti kamu jadi mudah marah dan kehilangan sopan santunmu. Nilai-nilaimu akan sangat tidak berarti jika kamu di pandang rendah oleh-nya karena satu hal.

“Sekolah tinggi-tinggi tapi bicara dengan orang yang lebih tua kok seperti itu ya?” Tidak maukan di bilang begitu, maka lakukanlah dengan bijak dan pada tempatnya. Kita diam saja dapat omongan apalagi sampai bicara tidak sopan.


Tentang Ketaatan
Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, penulis pun hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan khilaf. Ada beberapa peningkatan-peningkatan kecil yang saya alami. Meski terkadang kita perlu di dekatkan pada sebuah cobaan barulah kita taat. Atau taat tapi masih pada porsi yang minim. Meski begitu, kamu perlu bersyukur karena masih diberi umur untuk memperbaiki diri. Itu artinya, kita di pinjamkan waktu dan diberikan peluang untuk belajar lebih mentaatkan diri kepada Sang khalik.

"Lihat umurmu sekarang, masihkah sering melalaikan perintah-Nya ?" Renungan.

***

Saya ucapkan terimakasih kepada Allah SWT, kedua orang tua yang sudah mengizinkan saya merantau, kerabat/saudara yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri selama saya di Batam (teh Devi dan mas Iwan), Cemara (Kak Ayu, kak Evi), Sahabat Kampret (Ranti, Isti, Cindy), teman-teman kampus, bapak/ibu Dosen, rekan-rekan kerja, tetangga rumah, Bu Dewi (ibu kost terbaik), Budek warung nasi, abang/mbak tukang sate, Alfamart samping kostan, para ibu angkat yang udah kayak mama sendiri, himpunan kegiatan sosial serta yang gak bisa saya sebutin entah yang saya kenal atau tidak terima-kasih banyak. Selama saya di Batam begitu banyak pengalaman berharga yang saya dapat.


© ardidapb

Comments

Popular posts from this blog

Teman Pulang

Saat suasana terasa sepi kadang saya berpikir  "Apa sih yang saya cari?"  "Hidup seperti apa sih yang bisa saya maknai?"  Semua punya waktu.  Begitu juga tentang tinggal dan meninggalkan. Keduanya itu terasa seperti pilihan...  Tetapi nyatanya kita tak punya kuasa untuk memilih. Sebaik apapun rencananya. Kita hanya pemeran tidak benar-benar bisa mendampingi saat sudah waktunya "Pulang" . Diri ini punya Tuhan. Jiwa dan raga yang rapuh hanyalah titipan. Apa sih, yg mau diagungkan. Apa sih, yang benar-benar kamu cari saat hidupmu bahkan sudah baik-baik saja? Saya rasa bukan kebanggaan yang jadi titik tenang, tapi bermanfaat untuk orang jauh lebih membahagiakan.  Karena, yang tulus... Biasanya jadi teman pulang. *Sudah ah, ini hanya catatan anak kecil yang hidupnya serba kebingungan.  © ardidapb

Sepucuk Cerita

 Ada yang tersesat di dalam hutan Lalu singgah di gubuk tua di malam hari Tempatnya kecil namun berapi, sehingga hangat juga terang Mengintip ia lewat bilik-bilik dinding Diluar hujan dan anginnya kencang Sendirian merungkuk, memeluk lutut Sembari berdoa memohon reda. "Tuhan jangan kau buat apinya mati. Aku takut gelap, mataku juga rabun" Pintanya gelisah. Belum sempat ia sampaikan doa yang lain Air turun dari atap yang bocor "Kenapa?"  Tanyanya takut sambil menangis Tungku pun padam dan gelap gulita Keluar  ia mencari cahaya bulan Tiba-tiba petir menghantam gubuknya Hancurlah sudah sampai seisi-isinya Hanya diam mematung menyaksikan semua "Kau tahu aku diminta keluar karena petir datang"  Dan "Kau tahu di luar pun gelap aku kehujanan"  Ketakutan membuat rasa syukurnya hilang "Aku sendirian" "Aku kebingungan" "Kau tahu apa yang harus ku lakukan?" Tanyanya pada seekor katak yang diam Katak itu lompat mende...

Buku Rasa Cokelat

Saat aku merasa tidak ingin mengatakan apa yang sedang kurasakan kepada manusia lain sebagai perantaranya. Saat itu, aku memilih menjadi silentium saja. Rasa-rasanya buku adalah pilihan tepat untuk melarikan diri tanpa harus banyak berucap. Tapi terkadang benda mati seperti buku pun bisa jauh memahamiku.  Buku bisa jadi teman sekaligus penasihat. Mengerti apa yang ku inginkan, tahu apa yang ku butuhkan. Tak perlu repot-repot merepetisi cerita yang ku punya. Hanya dengan menemukan. Membacanya pelan-pelan jika ada yang tidak kumengerti biasanya kucari sendiri. Seolah-olah ia mampu marasuki pikiranku menyuruhku agar tetap waras sekalipun dalam diam.  Belakangan ini aku mencoba menjauhkan diri dari social media. Cara ini terbukti ampuh membuat ku fokus merampungkan bacaan. Buku terakhir yang kubaca berjudul Filosofi Teras milik Henry Manampiring, yang dari awal babnya saja sudah membuat ku hanyut dalam ilustrasi cerita. Seperti tenggelam dalam aksara. Padahal maksudn...