Skip to main content

Harga Pertemanan


Pernah enggak kamu ngebayangin berpindahnya kamu dari satu tempat ke tempat tinggalmu. Disana teman-temanmu sudah punya kesibukan semua dan kamu bukan teman prioritasnya lagi karena selama terpisah kalian sama-sama punya pertemanan baru di tempat yang berbeda. Tetapi kalian masih saling berkomunikasi dan mereka juga masih menanyakan kabarmu.

"Kapan pulang?"

"Kapan kita ketemuan?"

"Kangen nih!"

Kira-kira seperti itu bunyinya. Cukup lama untuk menanti sebuah pertemuan hanya setahun sekali itupun kalau mereka tidak mudik lebaran. Dan ketika kamu sudah benar-benar pulang untuk menetap. Kalian malah semakin sulit meluangkan waktu untuk saling bertemu. Sepertinya yang kamu inginkan selalu tidak berjalan sesuai dengan harapanmu.

Akhirnya, kamu pun mencoba mencari teman baru. Dengan harapan sesuatu yang baru bisa memberimu semangat. Manusia memang makhluk sosial, kita tentu butuh teman. Benar-benar 'teman' yang enak di ajak sharing atau klik dalam banyak hal. Tapi membuat sebuah pertemanan baru bukanlah hal yang mudah.

"Gak gampang cari teman yang enak di ajak ngobrol, bisa ada disaat senang maupun susah, gak usah banyak-banyak deh, satu saja..."

Tenang, ternyata kamu punya solusinya yaitu terpaksa mengandalkan dirimu sendiri, seperti saat pertama kali kamu merantau. Jika belum menemukan teman baru yang cocok,  kamu wajib melakukannya sendiri.

Tidak bergantung pada orang lain dan tidak menyusahkan, intinya menjadi mandiri. Oiya, masih ada orang tuamu. Setidaknya mereka akan selalu ada untukmu. Terakhir, ada satu hal penting lagi yang harus kamu ingat meskipun ini menyakitkan.

"Kita di Bumi akan bertumbuh dan mengalami perubahan dan itu sesuatu yang wajar. Jadi lihatlah ini juga sebagai sebuah proses kehidupan yang terjadi secara alamiah"

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun, murni hanya pandanganku atas keresahan hati dan pikiran agar benar-benar ikhlas menerima kenyataan. Salam damai, salam rindu.

© ardidapb

Comments

Popular posts from this blog

Sepucuk Cerita

 Ada yang tersesat di dalam hutan Lalu singgah di gubuk tua di malam hari Tempatnya kecil namun berapi, sehingga hangat juga terang Mengintip ia lewat bilik-bilik dinding Diluar hujan dan anginnya kencang Sendirian merungkuk, memeluk lutut Sembari berdoa memohon reda. "Tuhan jangan kau buat apinya mati. Aku takut gelap, mataku juga rabun" Pintanya gelisah. Belum sempat ia sampaikan doa yang lain Air turun dari atap yang bocor "Kenapa?"  Tanyanya takut sambil menangis Tungku pun padam dan gelap gulita Keluar  ia mencari cahaya bulan Tiba-tiba petir menghantam gubuknya Hancurlah sudah sampai seisi-isinya Hanya diam mematung menyaksikan semua "Kau tahu aku diminta keluar karena petir datang"  Dan "Kau tahu di luar pun gelap aku kehujanan"  Ketakutan membuat rasa syukurnya hilang "Aku sendirian" "Aku kebingungan" "Kau tahu apa yang harus ku lakukan?" Tanyanya pada seekor katak yang diam Katak itu lompat mende...

Teman Pulang

Saat suasana terasa sepi kadang saya berpikir  "Apa sih yang saya cari?"  "Hidup seperti apa sih yang bisa saya maknai?"  Semua punya waktu.  Begitu juga tentang tinggal dan meninggalkan. Keduanya itu terasa seperti pilihan...  Tetapi nyatanya kita tak punya kuasa untuk memilih. Sebaik apapun rencananya. Kita hanya pemeran tidak benar-benar bisa mendampingi saat sudah waktunya "Pulang" . Diri ini punya Tuhan. Jiwa dan raga yang rapuh hanyalah titipan. Apa sih, yg mau diagungkan. Apa sih, yang benar-benar kamu cari saat hidupmu bahkan sudah baik-baik saja? Saya rasa bukan kebanggaan yang jadi titik tenang, tapi bermanfaat untuk orang jauh lebih membahagiakan.  Karena, yang tulus... Biasanya jadi teman pulang. *Sudah ah, ini hanya catatan anak kecil yang hidupnya serba kebingungan.  © ardidapb

Patimban

Hari yang sama di tahun lalu, hari dimana aku mendapatkan kabar baik sekaligus kabar buruk dalam satu hari. Keesokan harinya Allah memberiku hadiah mengunjungi tempat yang belum pernah aku datangi. Tanpa handphone, tanpa kamera tidak ada foto yang ku jadikan kenang-kenangan. Padahal cukup berkesan. Hanya mata dan pikiranku yang tidak berhenti bertanya-tanya. Rasanya hari itu campur aduk antara setengah bahagia, setengah tidak percaya. Seharian itu aku duduk di dekat jendela bus menatap banyak hal yang tertangkap oleh pengelihatanku. Jalanan, jembatan, pohon-pohon, terminal, kesibukan orang-orang, pedagang asongan, pengamen, persawahan dan banyak lagi hal-hal seru yang tak terduga. Ah , sudah lama sekali aku tidak naik bus  menempuh perjalanan lumayan jauh terakhir waktu SMA bersama almarhum kakek ku. Kami sering bolak-balik ke Bandung berdua. Kadang untuk seminggu, kadang hanya dua hari mengunjungi rumah saudara. Kali ini aku pergi ditemani Ayahku dari Cilegon ke Pat...