Skip to main content

Posts

Portrait

Sabtu ku cerah ceria juga k enyang  dan menyenangkan. Kedatangan seekor beruang betina   y ang jinak dan lucu. Harusnya Juli tapi PPKM  buat kita  jadi terpencar dan terlambat.  Pembukaan Bafest , diawali dengan Hujan-hujanan. Behind the scene   kreasi  di bulan  Agustus. Beberapa planning jadi bergeser  namun berharap tetap berkesan. WFH beli kopi biar gak ngantuk  eh, malah begah. Membaca sampai terkantuk-kantuk bagus sekali, suka sekali. Enak sih tapi kurang banyak. Hehe © ardidapb

Landscape

Tidak perlu di siram karena subur seumur hidup. Sore itu aku pulang lebih cepat. Cerah sekali dan ubinnya pun sudah bersahabat. Senja akan terlihat lebih indah sehabis hujan. Aku mencatat semuanya disini. Malam, dingin dan lampu jalan yang temaram. Kapan ya mereka tumbuh besar ? Kamu tahu caranya membaca buku paling mantap adalah sambil merujak. Hujan, perpisahan dan kunang-kunang di kepala. Sepertinya aku punya bakat dalam menghias roti lalu memamerkannya. © ardidapb

Patimban

Hari yang sama di tahun lalu, hari dimana aku mendapatkan kabar baik sekaligus kabar buruk dalam satu hari. Keesokan harinya Allah memberiku hadiah mengunjungi tempat yang belum pernah aku datangi. Tanpa handphone, tanpa kamera tidak ada foto yang ku jadikan kenang-kenangan. Padahal cukup berkesan. Hanya mata dan pikiranku yang tidak berhenti bertanya-tanya. Rasanya hari itu campur aduk antara setengah bahagia, setengah tidak percaya. Seharian itu aku duduk di dekat jendela bus menatap banyak hal yang tertangkap oleh pengelihatanku. Jalanan, jembatan, pohon-pohon, terminal, kesibukan orang-orang, pedagang asongan, pengamen, persawahan dan banyak lagi hal-hal seru yang tak terduga. Ah , sudah lama sekali aku tidak naik bus  menempuh perjalanan lumayan jauh terakhir waktu SMA bersama almarhum kakek ku. Kami sering bolak-balik ke Bandung berdua. Kadang untuk seminggu, kadang hanya dua hari mengunjungi rumah saudara. Kali ini aku pergi ditemani Ayahku dari Cilegon ke Pat...

Dari Aku

(Pembuka) Halo apa kabar, perkenalkan aku adalah pesan yang kamu buat menjelang tidur di tengah malam. Ada yang kamu simpan sendirian ada juga yang ingin kamu bagikan. Kamu sering menemukan keresahan, saat itulah biasanya kamu akan menulis panjang-panjang. Katanya aku takut hilang kalau hanya tersimpan di laptop atau di buku harian. Jejaknya bisa tidak di temukan, entah karena rusak atau karena rayap. Sekarang tugasku hanya berusaha menyampaikan. Lucu ya, kamu buat surat ini untuk dirimu sendiri. Aku datang buat jengukin kamu, buat mastiin kalau kamu baik-baik aja. Isi suratnya nanti aku jelasin. Bagusnya sambil nge-teh duduk sore-sore di pelataran rumah. Suruh cucumu pulang nanti kamu gak konsen bacanya. Ya Allah, hahahaha . Dan mudah-mudahan blogmu di masa depan masih tetap ada, tidak sampai hilang atau tergerus zaman. (Isi) Terimakasih ya, sudah sampai ke titik ini. Kamu sudah banyak melewati hari-hari luar biasamu. Bersyukur sekali jiwamu dan ragamu sudah rela ber...

Kuala Lumpur

Hi Ran, gimana kabarnya? Udah hampir setahun kita enggak ketemuan. Batam - Cilegon jauh ya. Andai aku punya pintu Doraemon. Mungkin tiap hari aku main kesana, tapi sayangnya itu musrik dan aku gak percaya. Jadi ingat kata-katamu ran. "Waktu berlalu begitu cepat dan kita gak pernah tau apa yang bakal terjadi di masa depan" Tahun 2020 terlalu ekstrem untuk di narasikan. Jadi, aku bukan mau cerita tentang si monster yang udah bikin banyak orang merasa kehilangan. Tapi mau cerita tentang jalan-jalan kita ke Malaysia tahun lalu. Mau ingat yang seru-serunya aja. Biar lunas juga hutang  posting ceritanya haha . Bulan Juni 2019, sebelum aku pulang ke Cilegon di akhir tahun. Kita berencana traveling ke Kuala Lumpur. Senang banget, karena itu pertama kalinya kita pergi ke Malaysia. Ingat gak ran? Kita ngadain meeting hampir tiap minggu saking excited nya kita juga punya catatannya masing-masing. Mulai dari penginapan, transportasi, tempat wisata, estimasi biaya sa...

Biar Tangan Berkata

  Banyak diam bukan menunggu di tanya Tak banyak bicara bukan tak bisa cerita Mengapa riuh diluar sana Memangnya salah dengan caranya Lalu bingung dan bertanya-tanya Barulah sadar ternyata gaduh tanpa kabar Tidak semua harus di bagi ke dunia maya Yang hilang hanya virtual nya saja Mudah sekali menilai segala sesuatunya Jadi bolehkah tidak terima Ternyata asumsimu salah Tapi ah tak usah lah Kan, tidak pernah berbagi suara Tidak saling memberi tahu apa maksudnya Nasihat datang begitu saja  Padahal minta pun tidak  Eh, ada loh tata caranya Kata-kata indah akan terdengar aneh Saat di lempar tapi malah tertampar Heran kenapa gitu jadinya Dengar dulu sebelum banyak menilai Tanyakan lagi apa cukup dengan mendengar Mungkin saja yang dicari hanya ruang Bukan tisu, kuping atau bahu Manusia tak suka luka Tapi kadang suka meluka Jadi susah memahaminya Hanya gara-gara tak banyak bicara Biar tangan yang berkata © ardidapb

Ternyata Kita Pelupa

Sebaik apapun kita berencana jalan hidup memang sulit di tebak. Semakin bertambahnya usia perlahan kemampuan kita dalam mengingat pun akan berkurang. Kemungkinan karena telah hadirnya cerita baru lalu cerita lama tergantikan. Kenyataannya hanya sedikit yang ingin di simpan selebihnya di biarkan menghilang. Lupa, kemarin pernah mengalami hal sulit. Lupa, kemarin punya banyak cerita seru. Hari demi hari berlalu. Semua akan tertinggal dan kenangan hanya tinggal kenangan. Perlahan kita akan terbiasa tidak saling mengingat dan menjadi wajar jika nanti terlupakan.  Karena waktu mengajari kita untuk terus berjalan. Tidak pernah berhenti memberi jeda sebentar. "Apa tidak masalah kalau tidak ingat?" Tanya kita suatu saat. "Manusia memang pelupa. Lakukan saja sebaik-baiknya karena aku enggan mengulang" Sindir Sang Waktu. Begitu juga dengan kenangan yang kita simpan di masing-masing kepala. Semua bisa menghilang sekeras apapun kita bilang, tidak mungkin dan tidak a...