Skip to main content

Posts

Buku Rasa Cokelat

Saat aku merasa tidak ingin mengatakan apa yang sedang kurasakan kepada manusia lain sebagai perantaranya. Saat itu, aku memilih menjadi silentium saja. Rasa-rasanya buku adalah pilihan tepat untuk melarikan diri tanpa harus banyak berucap. Tapi terkadang benda mati seperti buku pun bisa jauh memahamiku.  Buku bisa jadi teman sekaligus penasihat. Mengerti apa yang ku inginkan, tahu apa yang ku butuhkan. Tak perlu repot-repot merepetisi cerita yang ku punya. Hanya dengan menemukan. Membacanya pelan-pelan jika ada yang tidak kumengerti biasanya kucari sendiri. Seolah-olah ia mampu marasuki pikiranku menyuruhku agar tetap waras sekalipun dalam diam.  Belakangan ini aku mencoba menjauhkan diri dari social media. Cara ini terbukti ampuh membuat ku fokus merampungkan bacaan. Buku terakhir yang kubaca berjudul Filosofi Teras milik Henry Manampiring, yang dari awal babnya saja sudah membuat ku hanyut dalam ilustrasi cerita. Seperti tenggelam dalam aksara. Padahal maksudn...

Suara-Suara di Kepala

Satu hari di bulan Juni, ada seorang teman yang bertanya kepadaku kenapa sekarang aku jadi pendiam? Bukannya dari dulu gitu. Katanya suka bicara dan berdiskusi? Nyatanya aku lebih senang mendengar dan bertanya. Hi  teman bicara, tempatnya berbagi pikiran dan keresahan. Kenapa ya belakangan ini aku merasa berlebihan? Sebentar, memangnya kamu sudah punya teman? Anggaplah sudah.  Oke lanjut. Ada banyak hal sepele yang terlalu kupikirkan yang justru membuatku semakin merasa cemas dan gelisah. Perasaan-perasaan tidak jelas itu sering muncul dan mengganggu pikiranku. Mungkin karena ada perubahan dengan rutinitasku sekarang atau mungkin karena planet kita sedang kedatangan monster , jadi manusia susah kemana-mana. Takut. Akhirnya menjadi beban bagi sebagian orang yang sedang mencoba beradaptasi. Sedang berusaha menerima dirinya di lingkungan yang baru. Perasaanku sering  up and down. Bisa sangat senang karena satu hal juga bisa sangat sedih karena hal ke...

Lebih Manusiawi

Apa yang membuatmu bahagia? Tidur. Kegiatan paling menyenangkan dan langka haha lebay lu . Oiya, pengantar sebelum tidur ini berasal dari cerita lama sewaktu merantau. Mengalami masa-masa sibuk bekerja, kuliah, berbisnis, hobi,  traveling , hangout  dan ikut komunitas. Saat itu aku masih belum mampu membagi waktu istirahatku dengan baik. Dan tidur seakan menjelma menjadi sesuatu yang berharga. Karenanya aku pernah ketiduran saat sedang bekerja. Untung gak sampai jatuh, untung juga gak ada yang lihat. Pokoknya semua masih serba menguntungkan wkwk . Meskipun tidur cuma sebentar tapi rasanya tubuh jadi lebih enakan dan kepala jauh lebih ringan,  hah  ringan? Tapi ada yang lebih  lebay  dari itu. Aku pernah ketiduran pas lagi asik-asiknya nyuci piring. Enggak  ding , gak asik karena ternyata bukan tidur melainkan pingsan. Bikin heboh teman-teman di kostan untung bentar  doang , ralat aku gak mau bilang itu menguntungkan itu kisah pilu. B...

Menua Bersama

Entah kenapa dari dulu aku selalu merasa iri melihat sepasang suami istri yang sudah menjadi kakek nenek. Rasanya tuh lebih dari melihat pasangan muda-mudi yang baru nikah. So sweet gak sih. Aku gak perlu tahu isi cerita mereka gimana. Apa anak-anaknya sudah menikah, cucu-cucunya sudah besar atau bahkan mereka tidak punya itu semua. Terlepas dari ketidaktahuan ku tetap saja aku merasa iri. Terinspirasi dari kakaknya ayahku yang sekarang menjadi seorang kakek. Tinggal lah berdua sepasang suami isteri yang sudah menua. Bulan puasa kemarin, rumahnya sepi. Aku jadi ingat dulu tidak pernah sesepi itu. Ini karena keempat anaknya semua sudah menikah. Anak perempuannya ikut suaminya dan ketiga anak lelakinya sudah punya rumah sendiri. Ditambah saat ini sedang ada pandemi jadi aktivitas keluar rumah semakin terbatas.  Gak nyangka kakak sepupuku kini sudah berkeluarga. Kalau ingat dulu jaman SD sampai SMA selalu ada saja mereka yang satu sekolah dengan ku dan mama selalu bilang....

Makna Sesungguhnya

Edisi berbagi cerita. Jujur, aku jarang sekali membahas tentang agama di blogku. Dan ini adalah tulisan pertama ku yang ada kaitannya dengan hal itu. Hanya ingin  sharing  sedikit tentang pengalaman dan pandangan ku. Semoga tulisan sederhana ini bisa berguna.  Ada satu pertanyaan dari adik kelas ku yang menurutku sederhana tapi juga susah. Awalnya kami cerita tentang pengalaman masing-masing sewaktu kuliah dulu, lalu merambat sampai ke pertanyaan ini.  "Kak satu kata, menurut kakak sholat itu apa sih?" Tiba-tiba percakapan yang tadinya lucu berubah jadi serius. Dalam hati sempat terpikir kenapa sama anak ini kok nanyanya gini.  "Kewajiban..." Jawab ku singkat.  "Coba kakak pikir-pikir lagi? Ada yang lain gak?" Suasana menjadi hening dan membingungkan. Akhirnya dia menyudahi sendiri dan mulai bercerita tentang pengalamannya.  "Waktu itu ada dosen yang nanya gitu kak, jadi semua mahasiswa di kelas itu di tanyain satu-satu dan rata-rata semua...

Apa Kabar

" Masihkah ingat kepada siapa hal ini ingin kamu tanyakan?" Entah kepada teman lamamu, kepada orang tuamu, mungkin kepada mereka yang sedang berjuang sendirian di rumah sakit atau mereka yang tidak bisa pulang berkumpul bersama keluarganya. Kepada rekan kerjamu yang terkena PHK atau tetangga rumahmu yang sudah jarang kamu temui. K erabat jauhmu atau mereka yang sedang sibuk bekerja sehingga kamu pun segan untuk bertanya.  Kepada siapapun itu yang pernah kamu kenal dan mereka mengenalmu. Perihal pandangan jadi renungan, ini tentang sebuah kata sederhana yang terdengar biasa saja tapi bisa berdampak besar bagi sebagian orang.  Akhirnya terciptalah sebuah teori. 'Kadang kita mau tapi kita ragu. Kadang kita rindu tapi kita malu. Juga kadang kita gak tahu dan gak mau tahu'. Jadi diam dan mengurungkan niat adalah pilihan paling tepat.  Padahal bilang, Apa kabar... Ketika diucapkan dengan perasaan tulus. Betapa berartinya kata-k...

Ruang Sendiri

Udah kaya judul lagu Tulus? Benar kok. Aku terinspirasi dari lagunya makanya aku bermaksud membuat tulisan dengan topik ini. Bercerita mengenai seseorang yang butuh ruang untuk mengerti dirinya sendiri. "Ruang Sendiri" Mungkin kita pernah merasakan kepenatan, kegaduhan sehingga kita butuh ruang sendiri untuk mengatasinya. Ada yang bilang itu namanya melarikan diri dan ada juga yang bilang dia cuma butuh istirahat. Tergantung dari mana kita menilai dan seberapa lama waktu yang di butuhkan.  Gak semua orang mandang hal itu buruk tapi gak sedikit juga yang mandang itu gak baik. Sekalipun bisa di lihat dari sudut yang benar. Tetap saja, nanti muncul perbedaan ada jarak yang bersebrangan, paham tapi tidak searah.  Ternyata tidak semua orang nyaman dengan keberadaan. Kadang kita butuh memahami artinya hilang dan tidak ditemukan. Supaya tumbuh perasaan baru tidak jenuh dan bosan. Maksudku bukan hanya tentang terhubung dengan seseorang tapi juga mengerti ...