Skip to main content

Posts

Kuala Lumpur

Hi Ran, gimana kabarnya? Udah hampir setahun kita enggak ketemuan. Batam - Cilegon jauh ya. Andai aku punya pintu Doraemon. Mungkin tiap hari aku main kesana, tapi sayangnya itu musrik dan aku gak percaya. Jadi ingat kata-katamu ran. "Waktu berlalu begitu cepat dan kita gak pernah tau apa yang bakal terjadi di masa depan" Tahun 2020 terlalu ekstrem untuk di narasikan. Jadi, aku bukan mau cerita tentang si monster yang udah bikin banyak orang merasa kehilangan. Tapi mau cerita tentang jalan-jalan kita ke Malaysia tahun lalu. Mau ingat yang seru-serunya aja. Biar lunas juga hutang  posting ceritanya haha . Bulan Juni 2019, sebelum aku pulang ke Cilegon di akhir tahun. Kita berencana traveling ke Kuala Lumpur. Senang banget, karena itu pertama kalinya kita pergi ke Malaysia. Ingat gak ran? Kita ngadain meeting hampir tiap minggu saking excited nya kita juga punya catatannya masing-masing. Mulai dari penginapan, transportasi, tempat wisata, estimasi biaya sa...

Biar Tangan Berkata

  Banyak diam bukan menunggu di tanya Tak banyak bicara bukan tak bisa cerita Mengapa riuh diluar sana Memangnya salah dengan caranya Lalu bingung dan bertanya-tanya Barulah sadar ternyata gaduh tanpa kabar Tidak semua harus di bagi ke dunia maya Yang hilang hanya virtual nya saja Mudah sekali menilai segala sesuatunya Jadi bolehkah tidak terima Ternyata asumsimu salah Tapi ah tak usah lah Kan, tidak pernah berbagi suara Tidak saling memberi tahu apa maksudnya Nasihat datang begitu saja  Padahal minta pun tidak  Eh, ada loh tata caranya Kata-kata indah akan terdengar aneh Saat di lempar tapi malah tertampar Heran kenapa gitu jadinya Dengar dulu sebelum banyak menilai Tanyakan lagi apa cukup dengan mendengar Mungkin saja yang dicari hanya ruang Bukan tisu, kuping atau bahu Manusia tak suka luka Tapi kadang suka meluka Jadi susah memahaminya Hanya gara-gara tak banyak bicara Biar tangan yang berkata © ardidapb

Ternyata Kita Pelupa

Sebaik apapun kita berencana jalan hidup memang sulit di tebak. Semakin bertambahnya usia perlahan kemampuan kita dalam mengingat pun akan berkurang. Kemungkinan karena telah hadirnya cerita baru lalu cerita lama tergantikan. Kenyataannya hanya sedikit yang ingin di simpan selebihnya di biarkan menghilang. Lupa, kemarin pernah mengalami hal sulit. Lupa, kemarin punya banyak cerita seru. Hari demi hari berlalu. Semua akan tertinggal dan kenangan hanya tinggal kenangan. Perlahan kita akan terbiasa tidak saling mengingat dan menjadi wajar jika nanti terlupakan.  Karena waktu mengajari kita untuk terus berjalan. Tidak pernah berhenti memberi jeda sebentar. "Apa tidak masalah kalau tidak ingat?" Tanya kita suatu saat. "Manusia memang pelupa. Lakukan saja sebaik-baiknya karena aku enggan mengulang" Sindir Sang Waktu. Begitu juga dengan kenangan yang kita simpan di masing-masing kepala. Semua bisa menghilang sekeras apapun kita bilang, tidak mungkin dan tidak a...

Buku Rasa Cokelat

Saat aku merasa tidak ingin mengatakan apa yang sedang kurasakan kepada manusia lain sebagai perantaranya. Saat itu, aku memilih menjadi silentium saja. Rasa-rasanya buku adalah pilihan tepat untuk melarikan diri tanpa harus banyak berucap. Tapi terkadang benda mati seperti buku pun bisa jauh memahamiku.  Buku bisa jadi teman sekaligus penasihat. Mengerti apa yang ku inginkan, tahu apa yang ku butuhkan. Tak perlu repot-repot merepetisi cerita yang ku punya. Hanya dengan menemukan. Membacanya pelan-pelan jika ada yang tidak kumengerti biasanya kucari sendiri. Seolah-olah ia mampu marasuki pikiranku menyuruhku agar tetap waras sekalipun dalam diam.  Belakangan ini aku mencoba menjauhkan diri dari social media. Cara ini terbukti ampuh membuat ku fokus merampungkan bacaan. Buku terakhir yang kubaca berjudul Filosofi Teras milik Henry Manampiring, yang dari awal babnya saja sudah membuat ku hanyut dalam ilustrasi cerita. Seperti tenggelam dalam aksara. Padahal maksudn...

Suara-Suara di Kepala

Satu hari di bulan Juni, ada seorang teman yang bertanya kepadaku kenapa sekarang aku jadi pendiam? Bukannya dari dulu gitu. Katanya suka bicara dan berdiskusi? Nyatanya aku lebih senang mendengar dan bertanya. Hi  teman bicara, tempatnya berbagi pikiran dan keresahan. Kenapa ya belakangan ini aku merasa berlebihan? Sebentar, memangnya kamu sudah punya teman? Anggaplah sudah.  Oke lanjut. Ada banyak hal sepele yang terlalu kupikirkan yang justru membuatku semakin merasa cemas dan gelisah. Perasaan-perasaan tidak jelas itu sering muncul dan mengganggu pikiranku. Mungkin karena ada perubahan dengan rutinitasku sekarang atau mungkin karena planet kita sedang kedatangan monster , jadi manusia susah kemana-mana. Takut. Akhirnya menjadi beban bagi sebagian orang yang sedang mencoba beradaptasi. Sedang berusaha menerima dirinya di lingkungan yang baru. Perasaanku sering  up and down. Bisa sangat senang karena satu hal juga bisa sangat sedih karena hal ke...

Lebih Manusiawi

Apa yang membuatmu bahagia? Tidur. Kegiatan paling menyenangkan dan langka haha lebay lu . Oiya, pengantar sebelum tidur ini berasal dari cerita lama sewaktu merantau. Mengalami masa-masa sibuk bekerja, kuliah, berbisnis, hobi,  traveling , hangout  dan ikut komunitas. Saat itu aku masih belum mampu membagi waktu istirahatku dengan baik. Dan tidur seakan menjelma menjadi sesuatu yang berharga. Karenanya aku pernah ketiduran saat sedang bekerja. Untung gak sampai jatuh, untung juga gak ada yang lihat. Pokoknya semua masih serba menguntungkan wkwk . Meskipun tidur cuma sebentar tapi rasanya tubuh jadi lebih enakan dan kepala jauh lebih ringan,  hah  ringan? Tapi ada yang lebih  lebay  dari itu. Aku pernah ketiduran pas lagi asik-asiknya nyuci piring. Enggak  ding , gak asik karena ternyata bukan tidur melainkan pingsan. Bikin heboh teman-teman di kostan untung bentar  doang , ralat aku gak mau bilang itu menguntungkan itu kisah pilu. B...

Menua Bersama

Entah kenapa dari dulu aku selalu merasa iri melihat sepasang suami istri yang sudah menjadi kakek nenek. Rasanya tuh lebih dari melihat pasangan muda-mudi yang baru nikah. So sweet gak sih. Aku gak perlu tahu isi cerita mereka gimana. Apa anak-anaknya sudah menikah, cucu-cucunya sudah besar atau bahkan mereka tidak punya itu semua. Terlepas dari ketidaktahuan ku tetap saja aku merasa iri. Terinspirasi dari kakaknya ayahku yang sekarang menjadi seorang kakek. Tinggal lah berdua sepasang suami isteri yang sudah menua. Bulan puasa kemarin, rumahnya sepi. Aku jadi ingat dulu tidak pernah sesepi itu. Ini karena keempat anaknya semua sudah menikah. Anak perempuannya ikut suaminya dan ketiga anak lelakinya sudah punya rumah sendiri. Ditambah saat ini sedang ada pandemi jadi aktivitas keluar rumah semakin terbatas.  Gak nyangka kakak sepupuku kini sudah berkeluarga. Kalau ingat dulu jaman SD sampai SMA selalu ada saja mereka yang satu sekolah dengan ku dan mama selalu bilang....